Selasa, 21 Maret 2017
Senin, 20 Maret 2017
Tamu
Saya yakin semua orang pernah bertamu atau di kunjungi tamu. Menjalin silaturahmi merupakan ajaran yang bagus untuk diterapkan. Dengan silaturahmi akan memanjangkan usia maupun melapangkan rezeki. Dengan demikian muliakanlah tamumu, itu ajaran yang pernah saya terima. Sepertinya gampang, tetapi ternyata sulit untuk dipraktekkan. Namun kebenaran ajaran itu tidak terbantahkan. Seperti kemarin, ada tamu yang tiba-tiba datang membawa kabar gembira dan kabar sedih. Namun semua dimaknai dengan rezeki
Minggu, 12 Maret 2017
11 Maret waktu istirahat pagi
Berbicara tentang media sosial, sebenarmya kita berbicara tentang komunikasi. Hanya saja yang dikomunikasika itu apa, tentang apa, dan dengan siapa. Sehingga isi media sosial akan beragam, tulisan,gambar, foto, atau lainnya, tergantung dari motivasi orang yang membuatnya. Namun tidak sedikit orang mendiskripsikan diri sendiri di medsos, yaitu menceritakan anggota badannya, atau apa saja yang ada atau melekat pada dirinya. Padahal sebagian dari itu bukan untuk konsumsi publik, ibarat manusia, ada sebagian aurat tubuh yang seharusnya ditutupi, bukan semua dibiarkan terbuka dan dinikmati banyak orang. Semoga kita tetap bisa menggunakan medsos dengan arif.
"Terima kasih atas obrolannya di pojok ruangan waktu itu, yang mengingatkan tentang aurat di medsos"
#tidak_ada_ruginya_berbagi_kebaikan
Rabu, 08 Maret 2017
7 Februari menjelang dhuhur
masih menyimpan
catatan tentang sebuah trauma
#dilarang_penasaran
Walaupun sudah dilarang penasaran, ternyata masih banyak yang
bertanya, ono opo to?
Kalau dijawab berarti menyalahi perintah, kalau tidak dijawab
di kira gimana..oke secara ringkas begini ceritanya, waktu itu menjelang
dhuhur, sekitar jam 11.30 di kantin sekolah. Seperti biasa datang ke kantin
sendirian, pesan makan. Tiba-tiba datang seorang teman (wanita) dan masuk ke
kantin. Kelihatan dia terkejut dan bingung, kalau mau pesan makan tidak enak
karena ada aku, kalau tidak pesan sudah terlanjur masuk, akhirnya hanya beli
makanan yang biasa di konsumsi anak-anak. Akhirnya dia keluar dan pindah ke
kantin sebelah untuk beli makanan yang lebih "berat". Pada siang
harinya, selepas dhuhur ternyata dia makan dari kantin yang tadi di tinggalkan,
tentu bareng-bareng dengan beberapa teman. Traumanya dimana? itu hanya sebuah
prediksiku saja. Masih penasaran? Simpan saja untuk lain waktu....hehe
7 Maret 2017 menjelang dhuhur
Ternyata salah, mungkin itu yang pas untuk
coretan ini. Pernah ku sangka ada trauma atas sebuah kejadian, ternyata tidak ,
karena peristiwa itu terulang kembali. "Pelanggaran" sebuah aturan
atas nama persahabatan. Hanya saja ekspresi rasa "bangganya", tidak
diekspos di ruang publik (termasuk medsos). Semoga perkiraanku salah,
tapi jika benar, akan muncul pertanyaan apa arti sahabat? Bukankah sahabat itu
akan mengingatkan ketika kita salah, bukan meng iyakan semua apa yang menjadi
perkataan dan perbuatan kita. Aku sempat berpikir, jangan-jangan ini ekspresi
rasa terasing, atau pembelaan atas kegagalan/keengganan membuka diri dengan
orang lain. Entah....
#eling_lan_waspada
#terasing_3
Kamis, 25 Desember 2014
Keajaiban Yang Tersembunyi Ketika Seorang Lelaki Bekerja
TANPA terasa, liburan sudah berlalu. Kini kita kembali memasuki hari kerja. Di sebagian orang, tentu wajar saja jika ada perasaan malas atau enggan ketika bekerja. Tapi ternyata, dalam Islam, bekerja bagi laki-laki merupakan salah satu yang dicontohkan oleh Rasulullah
Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar mereka dapat mandiri dan tidak berpangku tangan pada orang lain, atau dikenal dengan istilah qaddirun ‘alal kasbi yang berarti memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri.
Dalam hidup ini manusia memiliki kebutuhan baik primer, sekunder ataupun tersier. Oleh karena itu manusia perlu bekerja agar mampu memenuhi kebutuhannya tersebut.
Islam lebih menghargai orang yang bekerja keras untuk menghidupi dirinya daripada menjadi pengemis. Orang yang bekerja diberi beberapa keutamaan sebagai berikut:
Memelihara Izzah sebagai seorang Muslim
Dari Muhammad bin Ashim, dia berkata, “Telah sampai berita padaku bahwa Umar bin Khatab ra. Jika melihat pemuda yang membuatnya kagum, maka ia akan menanyakan perihal anak itu, ‘apakah anak itu memiliki pekerjaan?’ jika dikatakan, ‘Tidak’, maka ia akan berkata, ‘Telah jatuh satu derajat anak muda itu di mataku’.”
Memiliki pekerjaan akan menjaga izzah sebagai seorang muslim. Seorang muslim yang tidak bekerja tentu derajatnya akan jatuh, meskipun ia seorang yang soleh dan taat beribadah.
Memelihara Kemuliaan sebagai Manusia
Imam Ar-Raghib al-Ishfahani pernah berkata, “Siapa saja yang tidak mau berusaha dan bekerja maka nilai kemanusiaannya telah rusak bahkan nilai kebinatangannya, dan menjadi orang yang telah mati.”
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengambil contoh yaitu masyarakat lebih menghargai tukang sayur keliling yang mampu menghidupi dirinya secara mandiri daripada pengangguran.
Menyeimbangkan Kehidupan
“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11)
Allah mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Allah memberi kesempatan kepada kaum Muslimin untuk bekerja mencari rezeki di siang hari, dan pada malam harinya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada esok harinya.
Tidak bekerja adalah sikap setan
Setan selalu membisikan pada manusia agar meninggalkan usaha dan ikhtiar, setan meniupkan rasa malas pada manusia agar manusia tidak berusaha. Cukup hanya menunggu sampai ketentuan takdir-Nya datang. Padahal rezeki harus dicari dengan kerja keras.
Disejajarkan kedudukannya dengan para syuhada
“Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari Kiamat nanti.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim)
Seorang ayah yang bekerja keras menghidupi keluarganya adalah sejajar kedudukannya dengan para syuhada, anak muda bekerja untuk mencukupi kebutuhannya mulia seperti para syuhada begitu pula para pedagang di pasar yang jujur, amanah dan ikhlas dalam bekerja kedudukannya disamakan dengan kedudukan para syuhada. Begitulah Islam memuliakan orang yang bekerja dengan jujur dan amanah.
Kita memang belum pernah berperang seperti para Mujahid yang rela mempertaruhkan nyawanya, namun dengan bekerja secara jujur, Insya Allah pahala yang kita dapatkan dapat menyamai kemuliaan para mujahid tersebut.
Jenis-Jenis Puasa Syirik
LAZIMNYA, puasa-puasa yang biasa kita lakukan adalah puasa enam hari di bulan Syawal, puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa hari Arofah, puasa Muharrom, puasa Assyuro, puasa Sya’ban, puasa pada bulan Harom (bulan yang dihormati) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab, puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dawud, dan puasa Ramadhan.
Itu memang mempunyai landasan jelas dalam Al-Qura’an dan Sunnah Nabi. Ternyata di luar itu, praktiknya ada sebagian manusia yang “kreatif” dan melahirkan jenis-jenis puasa, bahkan tidak sedikit yang mengamalkannya karena dipercaya akan melahirkan kesaktian.
Langganan:
Postingan (Atom)